Acces Information Community


Derita Nasip Petani era Reformasi

Ditulis dalam Obrolan Angkring oleh deenmedia pada Oktober 10, 2006

Republika : Selasa, 05 September 2006

Impor Beras dan Nasib Petani


Wahyudin Munawir
Anggota Komisi VII DPR RI, Fraksi PKS

Dalam kalender nasional, tampaknya ada bulan-bulan tertentu di mana isu impor beras mencuat. Yaitu bulan-bulan ketika musim kering sedang mencapai puncaknya. Kali ini, di tahun 2006, isu impor beras kembali mencuat di bulan September. Di tahun 2005, isu impor beras juga muncul di bulan September. Begitu pula tahun sebelumnya.

Namun, ada hal berbeda pada isu impor beras tahun 2005 dan 2006. Pada September 2005 waktu isu impor beras mencuat, harga beras masih di bawah Rp 3.500 per kilogram (kg). Saat itu ada kesepakatan, kalau harga beras masih di bawah Rp 3.500 per kg, pemerintah berjanji tidak akan impor beras. Saat itu, masyarakat dan para pemerhati perberasan mengingatkan kepada pemerintah agar jangan mengimpor beras. Bila impor beras tetap dilakukan, artinya sama dengan ‘membunuh’ petani. Tapi apa yang terjadi? Pemerintah, tanpa sepengetahuan rakyat dan DPR, tetap impor beras. Alasannya, harga beras di beberapa tempat sudah di atas Rp 3.500 per kg, meski kemudian alasan itu terbukti tidak benar.

Pada tahun 2006, kejadian itu kembali berulang. Alasannya juga sama, harga beras pada September sudah sangat tinggi, yaitu Rp 5.091 per kg, naik 58,23 persen dibandingkan harga rata-rata Agustus 2005. Perhitungan itu diketahui dari 614 transaksi di 16 provinsi. Betukah? Pengalaman tahun 2005, ternyata alasan tersebut tidak benar. Tapi seandainya alasan itu benar, kenaikan itu sangat wajar karena didorong kenaikan harga BBM. Dari sanalah patut dipertanyakan: apakah impor beras itu akan berdampak baik terhadap kehidupan mayoritas bangsa Indonesia yang sebagian besar petani miskin?. Ketika pemerintah baru saja memutuskan untuk impor beras, harga beras langsung anjlok di beberapa sentra perdagangan beras. Di pasar beras terbesar di Jakarta, Cipinang, misalnya, harga beras langsung turun Rp 100 – Rp 200 per kg. Di sentra produksi beras, penurunan harga beras makin tajam lagi. Di Kecamatan Cimalaya, Cikampek, Jabar, misalnya, harga beras langsung turun hingga Rp 3.850 per kg. Ini adalah penurunan yang amat drastis dan sangat merugikan petani karena sejak kenaikan BBM Oktober 2005, kebutuhan untuk penanaman padi seperti pupuk dan pestisida naik tinggi sekali. Jika kondisi tersebut dibiarkan petani akan ‘mati suri’.

Beberapa catatan

Dari gambaran tersebut, ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan. Pertama, harga beras pada September 2006 mencapai Rp 5.091 per kg. Ini artinya, naik sekitar 68 persen dibanding harga beras rata-rata pada bulan September tahun 2005, yang mencapai Rp 3500 per kg. Kenaikan itu, jelas dipicu kenaikan harga BBM pada Oktober 2005. Dibanding kenaikan harga minyak tanah yang sekitar 280 persen, kenaikan harga beras yang hanya mencapai 68 persen tersebut, jelas ‘masih terlalu kecil’. Ini artinya, harga beras tersebut masih merugikan petani. Jadi, ketika pemerintah menyatakan harga beras sudah terlalu tinggi sebetulnya pernyataan tersebut menyesatkan karena tidak di-compare dengan kenaikan harga minyak tanah.

Kedua, pemerintah tampaknya abai terhadap dampak kenaikan harga BBM. Kita tahu sejak kenaikan harga BBM Oktober 2005 yang rata-rata sekitar 200 persen, semua kebutuhan hidup harganya naik. Namun, apa yang terjadi? Pemerintah tetap memakai Inpres No 13/2005 untuk menetapkan harga gabah petani –yaitu Rp 3.350 per kg. Ini jelas tidak realistis dengan perkembangan harga kebutuhan hidup para petani, termasuk kenaikan pupuk dan pestisida yang naik rata-rata di atas 30 persen. Jadi, bila ada tuntutan dari masyarakat bahwa harga beli gabah dari petani hendaknya dinaikkan, hal itu sangat wajar. Sebab jika tidak, petani akan sangat dirugikan.

Apa arti semua ini? Pemerintah memang kurang mendengar suara rakyat dan tidak mau melihat realitas yang sebenarnya. Yaitu, ketika harga beras di dalam negeri sebetulnya sudah sangat murah, pemerintah mau impor lagi dengan alasan untuk menurunkan harga beras yang sudah tinggi. Padahal harga beras impor sangat tinggi dan pemerintah akan mensubsidi harga beras tersebut agar beras lokal turun. Ini namanya kebijakan jungkir balik. Dampaknya, harga beras lokal pun terguncang, lalu anjlok. Yang dirugikan adalah petani. Alasan masyarakat dan sebagian anggota DPR yang anti-impor beras pun cukup rasional. Kenapa harus impor beras padahal harga beras sudah sangat murah dibanding harga yang semestinya?

Pemerintah selalu membuat kriteria yang sulit dibuktikan kesahihannya. Persediaan beras di Indonesia sudah mulai kritis karena cadangan beras di Bulog kurang dari satu juta ton (Itu pernyataan pada tahun 2005. Sekarang, tahun 2006, berubah lagi, yaitu persediaan beras aman kalau cadangan beras di Bulog mencapai 350 ribu ton). Jika tahun 2005 impor beras dilakukan untuk memenuhi cadangan beras satu juta ton, sekarang impor beras dilakukan untuk memenuhi cadangan beras 350 ribu ton. Asumsi tersebut kini dipertanyakan karena pemerintah sendiri plin-plan dalam menggunakan asumsi tersebut dari tahun ke tahun.

Persoalan berikutnya, pemerintah selalu memutuskan impor beras tanpa mempertimbangkan pendapat publik. Ketika debat publik impor beras baru berlangsung dan mayoritas masyarakat tidak setuju impor beras, pemerintah memutuskan untuk impor beras sebesar 210 ribu ton. Alasannya klasik, impor harus dilakukan karena persediaan beras berdasarkan data BPS sudah tipis. Terkadang ada alasan lagi, yaitu pemerintah tak bisa membatalkan kontrak dengan pihak penjual di luar negeri. Ini kasus tahun 2005 karena secara diam-diam pemerintah (yang didikte swasta) sudah bikin kesepakatan dulu dengan pihak luar negeri untuk impor beras padahal belum ada keputusan di dalam negeri.

Alasan pemerintah tersebut jelas menimbulkan reaksi keras masyarakat. Pers kemudian mengendus ternyata ada keanehan-keanehan dari impor beras tersebut. Antara lain, soal jumlah beras impor sebenarnya, soal catatan harga beras di pasar internasional dan nasional, soal kualitas beras, dan lain-lain. Kesimpulan pers, ada indikasi impor beras ini bersifat KKN. Uniknya, pemerintah tetap bertekad impor beras. Dari pengalaman tersebut, wajarlah jika kemudian banyak pihak yang curiga, jangan-jangan impor beras 2006 pun penuh rekayasa.

Dari perspektif itulah, kita bisa memahami kenapa impor beras tersebut bermasalah. Wapres Jusuf Kalla pernah mengingatkan bahwa harga beras semahal itu sudah di luar jangkauan sebagian besar rakyat miskin yang mayoritas petani. Padahal tidak seperti BBM, masyarakat tidak mungkin menurunkan konsumsi berasnya. “Berapa pun harga beras, pasti konsumsinya akan 120 kg per orang per tahun,” kata Kalla. Apa yang dikatakan Wapres sebagian ada benarnya. Tapi juga ada salahnya karena para petani miskin yang terbiasa menderita, cukup lentur dalam memenuhi kebutuhan pangan pokoknya.

Saya yang tinggal di sebuah kampung di Cikijing, Ciamis, misalnya, tahu persis bagaimana orang-orang miskin makan nasi campur jagung plus singkong jika harga beras mahal. Jika pun mereka punya beras atau gabah simpanan, kalau harganya mahal mereka akan menjualnya agar mendapat uang yang cukup untuk memenuhi keperluan hidup yang lain (biaya anak sekolah, beli baju, dll). Sementara untuk menu makan sehari-hari bisa dikompromikan. Melihat fenomena tersebut, kita bisa melihat bahwa impor beras lebih besar mudharatnya bagi petani.

Ikhtisar
- Pemerintah belum memiliki dasar dan asumsi yang kuat untuk mengimpor beras.
- Berdasar pengalaman sebelumnya, dalam impor beras tercium aroma KKN.
- Jika impor tetap dilakukan, harga beras akan anjlok dan pada gilirannya sangat merugikan petani.
- Masyarakat telah bereaksi keras menolak impor beras yang telah ditetapkan pemerintah.

 

Ditulis dalam Lentera Hati oleh deenmedia pada Oktober 10, 2006

Pentingnya Sabar Didalam Berdakwah June 25, 2003

Publikasi : Alsofwah.or.id

Sabar di dalam berdakwah memiliki peran amat penting dan sebagai kewajiban bagi seorang da’i. Sabar, secara umum merupakan kewajiban bagi setiap muslim, namun bagi seorang da’i, ia lebih dan sangat ditekankan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada pemimpin para da’i dan teladan mereka, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam untuk bersikap sabar, Dia berfirman, “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (QS. 16:127-128)

Di dalam ayat yang lain disebut-kan, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.(Qs. Al-Ahqaaf: 35)

Juga firman-Nya yang lain, artinya, “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka.” (QS. 6: 34)

Jika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saja, yang beliau adalah manusia paling mulia, penghulu Bani Adam masih diperintahkan untuk bersabar, maka bagaimana lagi dengan kita?

Pentingnya Sabar di dalam Ber-dakwah

Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menjelaskan kepada kita semua, bahwa kehidupan ini penuh dengan ujian dan cobaan. Salah satu hikmah diturunkannya cobaan dan ujian adalah agar diketahuai mana orang yang jujur dan yang dusta, mana yang benar-benar mukmin dan yang munafik, mana yang bersabar dan mana yang tidak.

Seorang da’i membutuhkan kesabaran yang ekstra kuat, hal ini karena keberadaan seorang da’i lain dengan masyarakat pada umumnya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah memberitahukan, bahwa semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin berat ujian yang dihadapi, beliau bersabda, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka. Seseorang diberi ujian berdasarkan tingkatnya dalam beragama.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim. Dihasankan oleh al-Albani)

Maka kesabaran bagi seorang da’i amatlah penting, di antara pentingnya kesabaran di dalam berdakwah adalah sebagai berikut:

1. Sabar di dalam Berdakwah Ibarat Kepala bagi Badan
Dapat dikatakan, bahwa tidak ada dakwah yang tanpa kesabaran, sebagai-mana tidak ada badan yang tanpa kepala. Jika kepala lepas dari badan, maka itu artinya kematian. Oleh karena itu, Iman Ibnu Qayim mengatakan,” Kedudukan sabar ter-hadap iman, ibarat kedudukan kepala terhadap badan. Maka tidak ada iman bagi orang yang tidak punya kesabaran, sebagaimana jasad juga tak berarti tanpa adanya kepala.” Jika dalam keimanan yang sifatnya masih individual dibutuhkan kesabar-an, maka dalam dakwah yang skupnya lebih luas dan kompleks sudah barang tentu sangat lebih dibutuhkan lagi.

2. Sabar Merupakan Salah Satu Empat Rukun Kebahagiaan.
Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103:1-3)

3. Sabar Termasuk Akhlak Paling Agung.
Kesabaran merupakan akhlak yang dibutuhkan oleh setiap muslim secara umum dan lebih khusus para da’i. Para ulama telah banyak menying-gung masalah pentingnya sabar dalam banyak risalah dan karya mereka.

4. Sabar Termasuk Perkara Paling Penting.

5. Sabar Merupakan Pendekatan Diri kepada Allah yang Utama
Di dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa hanya kesabaranlah yang akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang tidak terhitung. Hal ini menunjukkan, bahwa ia merupakan amal yang sangat utama dan tinggi kedudukannya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (QS. 39:10

6. Kesabaran Meringankan Penderitaan
Setiap muslim dan terutama para da’i pasti menghadapi tantangan dalam hidupnya, karena seorang da’i menga-jak manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwat yang dibenci oleh Allah, tunduk terhadap perintah-Nya, berhati-hati terhadap batasan-batasan-Nya serta menjalankan apa yang disyariatkan oleh-Nya. Maka orang-orang yang berseberangan dengan dakwahnya, pasti akan memusuhi dengan segenap tenaga bahkan bila perlu dengan angkat senjata. Menghadapi rintangan semacam ini seorang da’i mau tidak mau harus me-megang kayakinan dengan teguh dan bersabar, karena sabar merupakan pedang yang tak pernah tumpul dan sinar yang tak kenal redup.

7. Sabar Adalah Sifat Para Nabi
Para nabi dan rasul alaihimussalam mendapatkan keselamatan, kesukses-an dan kekuatan dikarenakan sikap sabar mereka. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Maka bersabarlah Kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. 30: 60) Lukman al-Hakim, seorang yang telah diberikan hikmah oleh Allah, telah mewasiatkan kesabaran kepada anaknya, sebagaimana yang telah difirmankan Allah Subhannahu wa Ta’ala , “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari per-buatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. 31:17)

8. Dengan Kesabaran Seorang Da’i Menjadi Teladan
Seorang dai hendaknya menjadi teladan bagi masyarakatnya, sebagai-mana ini merupakan salah satu sifat hamba yang ideal (Ibadur Rahman). Keteladanan dalam beragama tidak akan didapat, kecuali dengan bersabar, karena Allah telah menetapkan, bahwa imamah (keteladanan) hanya didapati oleh mereka yang sabar dan yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. 32:24)

9. Sabar Menghantarkan Kepada Pertolongan Allah.
Hal ini tentunya bukan berarti dengan meninggalkan usaha, karena pertolongan dari Allah tidak mungkin tercapai dengan sendirinya tanpa melakukan sebab- sebab yang mengan-tarkan kepadanya. “Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah menge-tahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. 3:120) “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang- orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS. 3:186) Allah Subhannahu wa Ta’ala menceritakan perihal Nabi Yusuf, bahwasanya dia mendapatkan pertolongan dikarenakan kesabaran-nya. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguh-nya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (QS. 12:90)

10. Sabar Merupakan Kumpulan Berbagai Akhlak Luhur
Di dalam sabar termuat berbagai macam akhlak yang mulia, di antaranya adalah santun, lembut, ramah, pemaaf, toleran, lapang dada, adil, menyembunyikan aib orang dan lain sebagainya. Seorang da’i akan menghadapai orang yang memiliki berbagai macam karak-ter. Ada yang banyak bertanya, sering membuat jengkel, malas, pembuat onar, menghadapi pertengkaran dan lain-lain, maka menghadapi masyara-kat yang bermacam-macam dibutuhkan kesabaran yang tinggi.

11. Sabar adalah Separuh Iman
Sabar dan Syukur adalah inti keimanan, Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS. 14:5) Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah menyifati seorang mukmin dengan sifat yang menakjub-kan, sifat itu tidak akan didapati, kecuali pada seorang mukmin, yaitu, “Kalau mendapatkan kelapangan, maka ia bersyukur, yang demikian adalah baik baginya. Dan apabila ditimpa kesempitan, maka ia bersabar dan itu pun baik baginya juga.” (HR. Muslim)

12. Sabar Merupakan Sebab Untuk Meraih Kesempurnaan
Kesempurnaan iman hanya akan dapat diraih dengan kemauan keras dan keteguhan. Oleh karena itu, dalam sebuah riwayat disebutkan doa berikut, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dari setiap urusan dan kemauan keras dalam meraih petunjuk.” Keteguhan dan kemauan yang keras tidak akan dapat berdiri dengan tegak, tanpa adanya pondasi kesabaran.

13. Kesabaran Merupakan Sarana Melatih Diri
Seorang da’i harus melatih diri untuk menjauhi perkara-perkara yang tidak selayaknya dilakukan olehnya seperti berkeluh kesah, bosan, patah semangat, terburu-buru, marah, takut, rakus, mendahulukan hawa nafsu dan lain-lain. Hanya dengan membiasakan bersikap sabar, ia akan mampu menjauhi semua itu, sehingga ia dapat bersikap proporsional dan adil dalam berbagai permasalahan, mempertimbangkan sesuatu dengan matang dan dengan pemikiran yang jernih. Akhirnya dakwah yang disampaikan menjadi lebih mengena, karena ia dapat mencari waktu yang tepat, metode yang sesuai dan penuh dengan hikmah.

14. Sabar Mempunyai Kedudukan yang Tinggi.
Di dalam beberapa firman Allah, sabar selalu bergandengan dengan sifat-sifat mulia yang lain, seperti yakin, syukur, tawakkal, shalat, tasbih dan istighfar, jihad, taqwa, al-haq, belas kasih dan sebagainya.

15. Kebaikan Dunia Akhirat Bagi Orang yang Sabar
Kebaikan bagi orang sabar: Allah beserta orang yang sabar; Allah mencintai orang yang sabar; Mendapatkan kesejahteraan dan rahmat dari Allah; Mendapatkan pertolongan; Dijaga dari tipu daya musuh dan yang paling penting adalah ia berhak mendapatkan surga, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala ,
Artinya, “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, (QS. 25:75)

Diringkas dari buku, “Anwa’u ash-Shabr wa Majalatihi fi Dlau’ al-Kitab wa as-Sunnah,” hal 7-27 Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani.

     

Musik Angklung

Ditulis dalam Kesenian Daerah oleh deenmedia pada Oktober 10, 2006

Angklung adalah alat musik tradisional, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Asal-usul

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Prototipe alat musik angklung dan calung mirip sama; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung dan calung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung dan calung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung dan calung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

[sunting]

Angklung Kanekes

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

[sunting]

Angklung Dogdog Lojor

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.

[sunting]

Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.

[sunting]

Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.

[sunting]

Buncis

Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle…, dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik mambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Daeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (19081984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.

Geliat warga Bantul Pasca Gempa

Ditulis dalam Ekonomi oleh deenmedia pada Oktober 10, 2006

Sheltering 

August 28th, 2006 by gempa

Gempa 5,9 skala richter yang terjadi di Yogyakarta dan Sebagian Jawa tengah pada tanggal 27 Mei 2006 lalu, telah berdampak pada hancurnya rumah hunian, fasilitas pendidikan, fasilitas umum,  terutama di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sampai saat ini diperkirakan sekitar 350.000 bangunan hancur akibat gempa, belum lagi infrstruktur yang lain  seperti sekolah, tempat ibadah, jalan, jembatan, saluran listrik, saluran air dll.

Secara psikis, gempa ini juga berdampak pada adanya trauma pada korban, terutama kepada korban perempuan dan anak-anak, karena keduanya secara fisik dan psiklogis memang sangat rentan. Kehilangaan harta benda bahkan keluarga menjadi pemicu utama terjadinya trauma. Disamping trauma atas peristiwa gempanya sendiri yang menurut data tercatat enam ribu lebih orang meninggal dan 3000 orang lebih luka berat akibat bencana tersebut.

Pada tahap tanggap darurat (Emergency Responses) datang bantuan untuk korban, dan terus mengalir sejak hari pertama pasca gempa. Baik yang berasal dari lokal Yogyakarta dan sekitarnya maupun bantuan dari dalam maupun luar negeri. Umumnya bantuan itu berupa makanan, obat-obatan, tenaga medis, tenda darurat, dll. Pada taap awal, kebutuhan akan penanaganan korban bencana secara cepat memang sangat diperlukan. Akan tetapi bila proses pemberian bantuan darurat tidak akan berlangsung lama,  sehingga prakarsa dan kemandirian korban dalam mengupayakan perubahan dari dalam dirinya sendiri perlu diberdayakan, agar masyarakat korban tidak tergantung terhadap bantuan.

Oleh karena itu harus segera mendorong terbangunnya semangat solidaritas masyarakat korban, untuk kembali bangkit melalui prakarsanya sendiri, dengan melakukan pendampingan pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi dengan modal sosial yang tersedia.

Persiapan
Asessment telah dilakukan di
(1) Dusun Kemasan, Sendangtirto Berbah Sleman,
(2) Dusun Tanjung Lor,  Patalan. Jetis Bantul.
(3) Dusun Tanjung Karang, Patalan, Jetis
(4) Dusun Garon Bangunharjo Sewon Bantul,
(5) Kampung Basen, Purbayan, Kotagede Yogyakarta,
(6) Dusun Joho, Jambidan, Banguntapan Bantul,
(7) Dusun Kwasen, Srimartani, Piyungan, Bantul.
(8) Dusun Daraman, Srimartani, Piyungan, Bantul
(9) Dusun Gatak, Prambanan, Kec. Prambanan Sleman
(10) Dusun Jomblang, Bambanglipuro

Sejak tahap awal tanggap gempa Syarikat  Indonesia, menyalurkan logistic, dan kemudian menggalang partisipasi untuk pembersihan puing rumah-rumah korban gempa serta fasilitas umum lainnya.

Metodologi Assesment yang digunakan adalah riset aksi partisipatoris (Participation Action Research). Dari hasil asesement yang ada, maka pilihan tempat sebagai basis project adalah;
(1) Dusun Kemasan Sendangtirto Kecamatan Berbah Sleman,
(2) Dusun Tanjung Lor  Patalan Kec. Jetis Bantul.
(3) Dusun Tanjung Karang, Patalan, Kec. Jetis
(4) Dusun Garon Bangunharjo Kecamatan Sewon Bantul,
(5) Dusun Jomblang, Kec. Bambanglipuro
(6) Dusun Joho, Jambidan, Banguntapan Bantul,
(7) Dusun Kwasen, Srimartani, Piyungan, Bantul.
(8) Dusun Daraman, Srimartani, Piyungan, Bantul
(9) Dusun Gatak, Prambanan, Kec. Prambanan Sleman

Dengan pertibangan-pertimbangan sebagai berikut;

  1. Letak daerah yang berada di kecamatan yang terkena dampak gempa terparah di Kabupaten Bantul dan Sleman;
  2. Persiapan sosial yang paling matang untuk memulai program
  3. Relatif belum tersentuh bantuan dari luar
  4. Hampir semua rumah yang ada di dusun-dusun tersebut rusak total dan rusak berat.

Situasi yang dilami korban pada saat sekarang:

  1. Ada problem keamanan, privasi, kesehatan dalam waktu 1 sampai 6 bulan mendatang
  2. Ada problem untuk memulai aktivitas ekonomi karena mereka harus membersihkan rumah dan lingkungan
  3. Ada problem perlindungan anak-anak korban
  4. Ada potensi konflik karena isu keadilan

Tujuan

Project ini secara umum bertujuan

Masyarakat korban mampu mandiri dalam proses rekonstruksi pasca-gempa secara partisipatif dan demokratis, khususnya dalam rangka melindungi kelompok-kelompok rentan di dalam masyarakat.

  1. Berfungsinya mekanisme musyawarah warga dalam setiap pengambilan keputusan
  2. Keikutsertaan/keterwakilan kelompok rentan dalam pengambilan keputusan
  3. Berkurangnya seminimal mungkin konflik social
  4. Berkurangnya seminimal mungkin trauma pasca gempa
  5. Masyarakat mampu mengidentifikasi masalah, kebutuhan, program, prioritas untuk proses rekonstruksi dan proses recovery selanjutnya
  6. Terumuskan program masyarakat:  (dari fase transisi ke fase rekonstruksi dan selanjutnya)

Strategi:

  1. memberdayakan kapasitas kepemimpinan local
  2. mendorong partisipasi warga
  3. pemulihan psiko-sosial warga
  4. pendampingan

Hasil yang diharapkan dalam waktu dekat :

  1. perencanaan kawasan yang aman, sehat
  2. pembangunan perumahan (transisional, permanent)
  3. pulihnya fasilitas umum
  4. pulihnya pendidikan
  5. pulihnya perekonomian
  6. berfungsinya pranata social

Layanan yang diterima:

  1. konsultasi dan persiapan sosial:
  2. pembersihan lingkungan secara kerja bakti
  3. bantuan bahan-bahan bangunan dari transisi > rekonstruksi
  4. bantuan pendidikan dan pemulihan psikologi
  5. bantuan modal usaha
  6. capacity building
  7. evaluasi

Aktivitas:

  1. Konsultasi dan persiapan social
  1. need assessment
  2. pertemuan warga
  3. workshop community organizer
  4. strategic planning dari  transisi > rekonstruksi
  5. pelatihan penataan kawasan dan pembangunan rumah (tahan gempa, sanitasi, air)
  1. Pembersihan lingkungan
  1. Support alat pembersihan
  2. Support Kerja bakti warga
  3. Support Logistic, dll
  1. Bantuan bahan-bahan bangunan dari transisi > rekonstruksi
  1. penyediaan bahan-bahan bangunan (transisional > permanent)
  2. penyediaan alat-alat pertukangan
  3. pelatihan tukang
  1. Pembangunan Rumah (Transisi)
    1. Pendataan
    2. Gudang dan distribusi
    3. Pembangunan rumah
    4. Sanitas
  1. Bantuan pendidikan
  1. pelatihan relawan untuk trauma healing bagi anak-anak
  2. penyediaan tempat bermainan darurat
  3. penyediaan alat-alat permainan edukasi
  1. bantuan modal usaha
  1. pelatihan manajemen usaha bersama
  2. penyediaan modal stimulant
  3. penyediaan alat-alat kerja
  1. capacity building
    1. pelatihan kepemimpinan social
    2. pelatihan manajemen proyek dan keuangan
    3. pembentukan badan rekonstruksi dusun
    4. penyediaan alat-alat tulis dan kantor
    5. penyediaan alat komunikas

    Demikian informasi sekilas langkah sederhana kami dalam memberikan bantuan bagi warga korban gempa, sehingga diharapkan kebangkitan dan semngat seperti sedia kala.

Hello world!

Ditulis dalam Uncategorized oleh deenmedia pada Oktober 9, 2006

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.